Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tuesday, April 30, 2013

Pergumulan Seorang Pelayan Tuhan


Lukas 10:38-42

Kebutuhan seorang pelayan Tuhan adalah kesiapan hati untuk menyambut Yesus setiap saat dan kesempatan. Hal ini tidak mudah, terlebih tersitanya perhatian setiap orang oleh rutinitas dan berbagai kesibukan. Pergumulannya bukanlah melawan dosa, kesulitan hidup. TeTapI melawan keASYIKan 'MELAYANI' Yesus, sampai Saudara sendiri tidak siap merasakan kehadiran Tuhan atau menghadap Tuhan setiap saat. Tidak sedikit peLAYAN Tuhan bukan ragu akan masalah keselamatan, keyakinan doktrin itu benar atau salah, atau berguna/tidaknya hidupku untuk-Nya, tetapi kebutuhan untuk setiap saat mengHADAP Dia [bersekutu, berdoa, berteduh, berpuasa].

Marta sedang asyik dengan pelayanannya, dia tidak siap menyambut kehadiran Yesus. Ketidaksiapan itu nampak dengan kejengkelannya pada Maria yang tidak membantu ‘pelayanan’nya untuk menjamu Tuhan Yesus (ayat 40b). Berbanding terbalik dengan Maria yang sangat menikmat kehadiran Yesus, dengan sangat antusias menyimak segala perkataan-Nya. Yesus menegur Marta yang sibuk dengan perkara-perkara yang seharusnya bisa ditunda. Sedangkan Maria telah memilih yang esensi. 

Apa yang dirasakan Marta dapat dimengerti dan dia merasa Tuhan Yesus tidak peduli dan mengasihi atas apa yang sudah dilakukannya. Tentu saja Allah PEDULI, namun Dia ingin Marta belajar satu-satunya pelayanan yang mendasar. 

Acapkali tidak sedikit orang yang sibuk dengan pelayanan rohani, berusaha memberikan yang terbaik bagi gereja namun sesungguhnya Tuhan LEBIH menginginkan umat-Nya meluangkan waktu bagi firman Tuhan. Jadi Maria telah memilih apa yang paling penting. Yesus mengingatkan bahwa tiada hala apa pun yang dapat menggantikan saat pribadi bersama Allah; tiada pengganti bagi hubungan dengan Kristus. 

Penyembahan bukan sekedar berbicara pada Tuhan. PElayanan bukan kesibukan yang di'atasnama'kan Tuhan, Tetapi juga saat-saat mendengar apa yang Dia inginkan bagi Saudara.

Tuesday, March 19, 2013

Hari Kelima: PUASA

PUASA adalah sebuah peralihan fokus belaka. Terlihat sangat sederhana, namun tidak semudah itu menjalaninya. 

Puasa bukan hanya sekedar penundaan waktu makan/minum, menahan nafsu apa pun untuk sepersekian jam, bukan, bukan hanya itu, tetapi Puasa adalah peralihan fokus! Puasa adalah pemberian diri (moga bukan pembiaran diri) Dalam menjalani kehidupan rutinitas kita, maka fokus kita adalah diri kita, si AKU ini. Apakah itu? Bisa hal itu bicara mengenai: makanan yang ingin dinikmati, kesukaanku harus segera terpuaskan, egoku yang harus kupenuhi hari ini, ds...dsb.... aku ingin ini dan itu!

Nah ketika kita berpuasa, maka hal itu tidak bicara penundaan waktu makan atau minum, membatasi diri terhadap keinginan makan dan minum, membatasi hawa nafsu kita saja, melainkan PUASA memberikan seluruh fokus kita kepada Tuhan, yang sangat mungkin ter'ABAI'kan, ter'SISIH'kan, semoga tidak ter'Buang' dari pikiran kita.

Dalam PUASA kita diarahkan (semoga tidak sekedar di'PAKSA'kan) untuk memikirkan apa yang Tuhan suka untuk kita kerjakan, Apa yang Tuhan benci agar kita tidak lakukan...dsb...dsb Intinya memberikan seluruh perhatian kita sepanjang hari itu untuk selalu memikirkan, merenungkan dan refleksi akan siapa Allah dan siapa saya!

Selamat beraktifitas!

Sunday, March 17, 2013

Saat Saat Yesus Dikhianat

Matius 26:20-25, 31-36; 40-46

 Keempat Injil mengisahkan perjalanan Yesus dan  para murid-Nya menghadapi saat-saat kematian Yesus. Nats bacaan kita hari ini merupakan bagian dari rentetan keseluruhan perjalanan Yesus sampai ke bukit Golgota. Pada malam terakhir sebelum Tuhan Yesus ditangkap, diadili, disangkali dan dikhianati oleh murid-muridnya sendiri dan sampai disalibkan. Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk berada disekelilingnya dan merayakan Paskah bersama dengan makan bersama. Persekutuan di meja makan atau makan bersama mempunyai arti yang sangat penting dalam tradisi Yahudi. Lihat kasus Elia: 1 Raja 19:7-8. Makan bersama bukan saja mengakrabkan orang-orang yang duduk bersama dalam satu meja melainkan lebih dari itu, dalam tradisi yahudi makan bersama dipakai juga sebagai tanda perdamaian keduabelah pihak yang pernah bertikai, sebagai tanda bahwa kedua belah pihak yang pernah bertikai sepakat untuk berdamai. Bukankah di tradisi orang Chinese, sebelum menegur atau menasehati, maka makan dipakai ajang yang baik, bukankah acapkali negosiasi bisnis juga tercapai dengan baik ketika kedua belah pihak makan bersama?
Tradisi makan bersama ini dipakai Tuhan Yesus juga untuk menguatkan hubungan antar murid dan mereka dengan diri-Nya, sebelum ‘badai’ besar itu datang pada-Nya dan para murid. Persiapan para murid untuk menghadapi penolakan, penganiaan bahkan resiko nyawa mereka sendiri dan tentunya resiko iman mereka (lihat kasus: Petrus yang menyangkal danTomas yang masih meragukan kebangkitan Yesus).
Dalam perjamuan itu, Yesus lalu mulai menasehati para murid2-Nya:
1.      Yudas (ayat 21 - sebisa mungkin, walau terasa mustahil karena dari kacamata rohani, Iblis sudah menguasai motivasi dan hati Yudas).
Bagaimana reaksi dari Yudas? Dalam ayat 25, ia tetap merasa tidak melakukannya [Padahal Yudas sudah sepakat dengan para penangkap [ayat 10-11]. Bukan hanya Para murid menolak tuduhan Yesus, Yudas malah mereka memberikan penegasan. Mereka semua melakukan bersih-bersih diri alias pembenaran diri dengan berkata :"bukan aku, ya Tuhan".
2.      Petrus (ayat 31). Pembenaran diri ini berlanjut dengan penegasan oleh Petrus, dengan memukul dadanya sambil berkata: "semuanya bisa tergoncang imannya namun aku tidak". Namun tidak dalam hitungan hari, Petrus yang paling awal tergoncang imannya. Ia jatuh hanya oleh sebuah pertanyaan sederhana dari seorang hamba perempuan yang sederhana, bukan oleh todongan pedang, yang akan mengancam jiwanya secara langsung. Ia cuma menegur Petrus, mengatakan hal yang sebenarnya yang ia ketahui; seorang pelayan perempuan dengan tangan kosong hanya menegur Petrus sang pemberani yang pernah memotong telinga pengawal imam besar. Sebenarnya secara logika tidak ada alasan yang kuat bagi Petrus untuk menghianati Yesus. Namun Petrus telah melakukannya dan penghianatan ini telah mengungkap potret manusia pada umumnya dan gereja secara khusus.
3.      Tomas (Yohanes 20:27). Yesus ingin Tomas percaya, namun Tomas berkata bahwa jikalau ia tidak mencucukkan tangannya ke lobang bekas paku itu, ia tidak akan pernah percaya – ayat 25).
4.      Dan murid-murid lainnya, yang meninggalkan Tuhan Yesus dan mengunci diri (Yohanes 20:19). Itu pun termasuk mengkhianati walau tidak separah Yudas. Tetapi kualitas pengkhianatan itu tetap sama!

Mengapa itu bisa terjadi? Karena (1) mereka menyangkali! Mereka merasa tidak mungkin melakukan pengkhianatan itu, sesuatu yang serasa jauh dari akal sehat mereka. (2) Mereka merasa Kuat! Padahal Yesus sudah berulang-ulang mengajak mereka berjaga-jaga dengan berdoa bersama Dia (Matius 26:40-44). (3) Harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan tidak tercapai, baik Yudas (yang menginginkan Yesus melawan dan bereaksi  bak panglima perang umumnya), para murid yang sibuk mencari kekuasaan atau berdebat siapa diantara mereka yang besar. Bagaimana dengan kita saat ini? Pengkhianatan kepada Yesus masih bisa terjadi kapan pun, walau pun bentuknya berbeda, namunnya intinya sama!

Diskusikan:
1.      Pengkhianatan apa yang terjadi saat ini di dalam hidup pelayanan gereja atau dalam hidup kita? Mengapa bisa demikian?
2.      Bagaimana mencegah agar itu tidak terulang terus dalam sejarah kekristenan?

Thursday, March 14, 2013

Hari ke empat: PUASA

Filipi 3:10 'Puasa tidak berbicara mengenai apa yang engkau bisa DAPATKAN dari Allah setelah melalui masa-masa 'kesengsaraan'mu (tidak makan, tidak minum, walau itu masih terlalu kecil dibandingkan dengan penderitaan Kristus) tetapi Puasa bicara mengenai APA yang engkau BERIKAN dari masa berpuasa di minggu-minggu kesengsaraan Yesus. 

Apakah engkau bisa me'mati'kan segala ego-mu dan bangkit untuk memberikan pengaruh bagi dunia disekitarmu.

Jadi puasa adalah bagian kecil dari apa yang dimengerti dari sebuah kata 'bersekutu dalam penderitaan'Mu.

Wednesday, March 13, 2013

Hari ketiga: PUASA

Puasa membuat setiap kita (tentu bagi yang berpuasa) tidak pernah menolak atau menunda sebuah ajakan ketika ada ajakan untuk bersantap: 'Anak-anak/Pa/Ma, yo makan"; atau "Mari sudah waktu kita makan (berbuka puasa)'. 

Sudah sering kita dengar beberapa anggota keluarga berkata:'ntar ma (atau pa), kerjaan masih nanggung! atau 'belum lapar ma', nanti aja aku makan setelah lapar sekali', atau 'malas acah makan har ini, dan alasan lainnya; ketika menu makanan sudah tersaji atau hidangan berbagai menu telah ada di meja makan. Reaksi penolakan atau penundaan ini, tidak jarang membuat kesal, gundah gulana bagi yang menyajikan makanan itu dengan susah payah.

Ingin menikmati ajakan waktu makan? tiada cara lain selain engkau untuk berkomitmen untuk berpuasa! selamat berpuasa!

Tuesday, March 12, 2013

Hari kedua: PUASA

PUASA, juga memberikan sebuah keindahan sebuah momen, yaitu saat menantikan waktu berbuka puasa. Seberapa rindu seseorang menanti waktu makan? Mungkin jarang menemukan orang-orang yang selalu rindu menunggu waktu untuk makan [baik itu pagi, siang dan makan]. 

Di zaman yang makin sibuk, makin banyak waktu terbuang untuk pekerjaan, gadget [baca sms, berita, BBM, dll] atau surat kabar atau urusan pribadi, makan tidaklah heran, orang menjalani momen makan sambil melanjutkan pekerjaannya, sambil baca berita, menelpon, nonton televisi, dll., intinya tidak ada yang menikmati makan...sambil merasakan waktu makan, isi makanan, dan dengan siapa akan makan.

ingin kembali menikmati getaran waktu makan? Mungkin tidaklah salah, jika saya anjurkan saudara berpuasa... dan nantikanlah waktu berbuka puasa dan catatlah apakah yang kau dapat pelajari.

Monday, March 11, 2013

Hari 1: PUASA

PUASA: sebuah momen kontemplasi yang membawa setiap kita untuk masuk dalam suatu keadaan ---> BERSYUKUR untuk sebuah rutinitas yang dinamakan MAKAN. Bukan rutinitas membuat kita lalai untuk mensyukuri waktu makan. Tidak jarang, waktu makan (sendiri, mungkin dengan teman kantor atau bersama dengan keluarga) menjadi sesuatu yang terpaksa, terlupakan, tak jarang ada takut makan. Puasa membuat kita sadar bahwa Makan pun adalah sebuah kenikmatan yang patut disyukuri oleh kita. 

Jadi kalau anda mulai merasa rutinitas makan anda hambar, selalu bersungut2 (menunya tidak enak, dll)... saya ANJURKAN untuk berPUASA!!!!

Monday, March 04, 2013

Hati-Hati Dengan Pujian Yang Berlebih

Belajarlah dari sejarah: [Matius 21:9] Jangan pernah ter'pesona' oleh pujian yang berke'LEBIH'an dari seseorang/sekelompok orang. Sebab itu acapkali menyesatkan, melenakan, menyimpang arah hidupmu, loyalitasmu, arah hidupmu dan karakter hidupmu.

Di saat lain mereka menyanjung 'HOSANA...HOSANA bagi keturunan Daud", namun di saat yang sama mereka tidak segan berkata:"SALIBKAN DIA, SALIBKAN DIA". 
Bukankah Julio Cesar juga telah mengalami hal itu dari para loyalisnya dan bahkan oleh Brutus? 
TETAP FOKUS pada tujuan hidupmu yang sudah Tuhan berikan kepadamu. Selamat beraktifitas.

Thursday, February 14, 2013

Sisi Terang dari Sebuah 'Kegelapan'

Matius 10:27:"Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap..."

Allah 'terkadang' menempatkan kita dalam situasi ke'gelap'an sebagai pendisiplinan utk mendengar dn menaati-Nya. Situasi 'terang' tidak jarang membuat kita banyak berbicara dan acapkali menempatkan diri pada situasi hati yang selalu merasa BENAR! Ketika saudara dalam pengalaman seperti itu, tutuplah mulut anda dan belajar mendengar 'suara'Nya. Jika kita terus membuka mulut, maka kita akan ada dalam situasi hati yang SALAH.

Jadi ke'GELAP'an ada waktu untuk mendengar bukan waktu berbicara! Jangan juga berbicara dengan orang lain, sebab kita tidak akan mendengar waktu Tuhan sedang berbicara dengan kita. Diam dan dengarkanlah karena Allah sedang memberikan sesuatu yang berharga untuk kita katakan ketika kita sudah ada dalam terang.

Jadi jikalau saat ini engkau sedang dalam situasi 'gelap' nikmati saja sebagai waktu pembelajaran untuk mempertajam pendengaran kita!!!!!

Tuesday, February 05, 2013

Misi Adalah Hak Istimewa


YOHANES 4:15-26,28-29
Kata "MISI” itu berarti "mengutus". Jadi menjalani misi Tuhan berarti adanya seorang atau beberapa orang yang diutus ke dunia sebagai perwakilan Yesus Kristus (Yohanes 20:21). Dari sekian banyak definisi misi, ada 2 definisi yang sering dipakai, yaitu (1) Misi adalah: "Setiap usaha yang ditujukan dengan sasaran untuk menjangkau melampaui kebutuhan gereja dengan tujuan untuk melaksanakan Amanat Agung dengan menyatakan Kabar Baik dari Yesus Kristus, menjadikan murid, dan dikaitkan dengan kebutuhan yang utuh dari manusia, baik jasmani maupun rohani". (2) Misi adalah mengenai Gereja Misioner yang aktif dan sehat, dalam penginjilan sedunia, di mana setiap anggota jemaat melihat dirinya sebagai komponen kunci dalam menggenapi Amanat Agung dan memobilisasi sumber-sumber dayanya semaksimal mungkin untuk tugas ini". Sedangkan menurut Stephen Neil: "Misi adalah setiap usaha sengaja untuk melintasi atau menerobos rintangan-rintangan dari gereja kepada nongereja demi memproklamirkan Injil dalam kata dan karya" (ingat kata-kata sindiran Nietzche: ‘Christians must show me, they are redeemed, before I will believe their Redeemer’). Jadi, misi adalah pekerjaan yang melibatkan kepekaan untuk melihat kehausan orang-orang sekitar saudara. Tuhan sengaja melewati jalan yang lebih jauh karena Ia mau bermisi bagi daerah itu melalui wanita ini. Jadi mengapa Misi itu menjadi istimewa? karena:

  1. Kita Menjadi Penerus Kelanjutan Misi Yesus di dunia [2 Korintus 5:18].Setelah mengalami arti anugerah yang menakjubkan itu, Wanita Samaria segera bercerita bagaimana Tuhan mengetahui siapa dirinya dan apa yang sekarang dialami. Dia senang sekali dapat menjadi bagian dari pewarta kabar baik itu, bisa mewakili Allah (ayat 28-29) 
  2. Memberitahu orang bagaimana mereka bisa memiliki hidup kekal adalah hal terbesar yang bisa dikerjakan oleh kita bagi mereka [Yohanes 4:39]. Salah satu masalah yang dimiliki oleh orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen ialah bahwa mereka lupa betapa sia-sia rasanya hidup tanpa Kristus. Oleh sebab itu jangan tunda, segera saudara tergerak, segera memberitakan hal itu. Alkitab mengatakan, "Hanya melalui Yesus saja orang diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Semua orang butuh Yesus. 
  3. Misi memiliki makna kekal dan memberi makna bagi kehidupannya [Yohanes 4:41-42]. Misi akan mempengaruhi masa depan abadi orang lain., sehingga mereka betul-betul Yesus Juruselamat dunia (ayat 42b). Itu lebih penting dibandingkan pekerjaan, keberhasilan, atau kenikmatan dan tujuan apa pun yang telah diraih selama hidup di bumi. Lihat bagaimana wanita Samaria bisa memiliki 5 suami (berarti cantik sekali) namun semua yang diraihnya kosong, tidak memberi makna apa pun (malah dihindari orang/wanita). Sedangkan hasil dari misi kita akan berlangsung selamanya bagi hidup kita dan hidup orang lain. William James berkata, "Pemanfaatan terbaik dari kehidupan ialah menggunakannya untuk sesuatu yang berlangsung lebih lama daripada kehidupan itu sendiri. Pada akhirnya, segala sesuatu akan binasa, hanya Kerajaan Allah yang akan berlangsung selamanya". Karena itulah kita harus menjalani kehidupan yang memiliki tujuan, yaitu kehidupan yang diserahkan untuk penyembahan, persekutuan, pertumbuhan rohani, pelayanan, dan pelaksanaan misi kita di dunia. Hasil dari kegiatan-kegiatan ini akan bertahan selamanya!
Doakan: 
(1) para misionari yang melayani di Negara-negara yang menolak kekristenan 
(2) anggota keluarga misionari dilindungi serta dapat kekuatan secara fisik dan rohani 
(3) Doakan Dana Misi yang terkumpul dapat disalurkan kepada orang yang memang butuh!

Wednesday, January 30, 2013

Jika Kita Milik Allah

"Tanpa tangan Allah sendiri yang berdaulat, tiada seorang pun yang dapat menyentuh hidup kita." (1 Samuel 3:18)

Apakah kita mengenali tangan-Nya yang sedang bekerja dan melihat segala peristiwa itu sebagai RANGKAIAN yang membentuk kita atau kita hanya lihat sebagai peristiwa biasa, wajar, kebetulan terjadi pada diriku, "ach itu mah dah takdirku, semua orang juga alami kok."

Setiap peristiwa yang mampir dalam hidup kita (jika itu atas izin Tuhan yang berdaulat), yang mungkin dalam bentuk kelancaran atau tekanan (kesulitan, penderitaan, masalah, dilukai, dll) hanya membawa kita untuk menyediakan telinga mendengar dan hati yang taat (bukan passrah dan berkata itu takdir, sial aja!).

Semua peristiwa itu datang pada kita tidak sekedar sebagai sarana DISIPLIN tetapi makin membuat kita sediakan TELINGA dan HATI kepada-Nya. Makin memposisikan kita pada sikap:"Tuhan berbicaralah sekali lagi padaku (1 Sam 3:10).

Jadi tiada seorang pun bisa 'menjamah' kita (bahkan Iblis) jikalau Tuhan tidak izinkan. Pendisiplinan Tuhan bisa dilakukan-Nya melalui 'CARA' apa pun agar umat-Nya makin dewasa dan bertumbuh (1 Sam 3:19)

Monday, December 31, 2012

Renungan singkat akhir tahun

akhir tahun di-besar2kan krn dia jadi rimender bagi si manusia: sudahkan resolusi awal tahun berjalan atau hanya pepesan kosong? Akhirnya akhir tahun hanya jadi tahun sesal si pelaku sejarah yg tak bertindak apa pun atas sejarah hidupnya apalagi sejarah dunia! Namun akhir tahun sec positif jadi satu sarana mawas diri: siapa aku, apa yg sdh kucapai, apa blm kucapai, mengapa tidak tercapai? Kalau bisa tercapai siapa mereka dibalik semua itu? Akhir kata menjelang akhirtahun: BERSYUKURLAH ATAS-NYA.

Friday, October 12, 2012

Apakah Pilihanmu?

(Yosua 24:14-1) hidup ini sll diperhdpkan pd byk pilihan. Dan dlm wkt yg tidak byk kita dipaksa utk memilih tanpa salah, kdg dgn pengalaman yg krg. Namun dr semua pilihan itu, yg plg dan mendesak adl pilihan IBADAHmu dan itu akan menentukan ms dpnmu bersama Tuhan. Selamat memilih dgn bijak!

Wednesday, October 10, 2012

Sisi lain dari sebuah Jalan Yang Terjal!


RUT 2:1-7
Alllah itu perancang terbaik! KEPAHITAN yang dialami Naomi --> Keterpurukan secara ekonomi, kematian anak-anak dan suami 'meMakSa'nya pulang KEMBALI ke tanah perjanjian, Kanaan. Namun segala sesuatu yang terlihat 'suram, gelap, tdaik berujung' sesungguhnya diizinkan Allah untuk sesuatu yang lebih baik untuk setiap umat-Nya. Pemulangannya malah telah dipersiapkan Allah seblumnya dengan: 
1. 'pemulihan' Ekonomi dari bangsa Israel, dimana Boaz menjadi seorang yang kayaraya. 
2. Rut mau mengikuti Naomi ke tanah asing. Dan ini makin menyempurnakan rencana Allah, walau pun semuanya seolah-olah KEBETULAN (ayat 3b).

Jadi jikalau sdr seolah-olah mengalami 'big problem', jangalah kuatir dan putus asa, dan merasa Tuhan senyap atas pergumulanmu. Yang penting, marilah taat dan bertanggungjawab dengan hidupmu bersama-Nya.

Thursday, January 19, 2012

Apakah Kebanggaanmu?

Tidak sedikit orangtua yang memiliki keBANGGAAN atau pristisenya NAIK karena memiliki anak-anak yang menJADI orang dikarenakan SUKSES dalam studi dan dunia usaha, KAYA RAYA, memiliki NAMA BESAR, berkedudukan atau memiliki jabatan di masyarakat. TIDAK Tepat 100%! Kebanggaan bahkan kebahagiaan para orangtua seharusnya terwujud/terealisasi ketika anak-anak kita TAKUT AKAN TUHAN, hidup dalam Firman (LUK 11:27-28).

Saturday, August 23, 2008

Kita diciptakan menjadi serupa Yesus

Rencana Allah sejak mula adalah - untuk menjadikan anda seperti Yesus Kristus. Ini tak berarti kita akan menjadi allah. Anda tidak akan pernah menjadi allah. Dan tentunya, Allah tidak menginginkan anda menjadi allah. Ia ingin anda menjadi rohani. Ia ingin kita semakin serupa dalam karakter-Nya, cara Ia berpikir, cara Ia bertindak, cara Ia merasakan, nilai-nilai-Nya, karakter moral-Nya.

Efesus 4:15. Bacalah bersama saya, “Allah ingin anda bertumbuh… menjadi serupa Kristus dalam segala sesuatu.” Apa artinya bertumbuh? Itu berarti menjadi serupa Kristus. Allah ingin kita bertumbuh, semakin hari semakin menyerupai Allah yang melahirkan atau menciptakan kita. Bukan menjadi bayi selamanya. Allah ingin kita untuk menjadi dewasa dan berkembang. Banyak orang makin tua atau bertambah usianya tetapi tidak makin dewasa, atau tak sedikit pun dewasa secara karakter.


Kolose 1:15 dalam Message berkata, “Kita memandang matahari dan melihat tujuan semula Allah bagi segala sesuatu.” Ini tidak terjadi dalam semalam, tidak terjadi tiba-tiba, ini membutuhkan proses, dan proses ini disebut “pemuridan. Dan Allah bisa memuridkan diri kita melalui berbagai hal, dan khsusunya melalui masalah, kesulitan dan tantangan agar kita semakin menyeruapai Dia. Apakah anda sudah menyerupai Yesus Kristus?


Friday, August 08, 2008

Santapan Harian

PERLOMBAAN TERBESAR

Kasih tidak berkesudahan. —1 Korintus 13:8

Bacaan Untuk Setahun: Ayub 22—24, Amsal 14:12-14


Hari ini, Pesta Olahraga Olimpiade dibuka di Beijing, dan saya teringat kepada Eric Liddell. Ia adalah seorang juara yang dikenang karena keberhasilannya memenangi medali emas secara mengejutkan dalam lomba lari 400 meter pada tahun Olimpiade 1924 di Paris. Satu tahun setelah kemenangannya, Liddell pergi ke China, tempat ia menghabiskan sisa hidupnya selama 20 tahun sebagai misionaris pengajar dan pendeta di pedalaman. Di sanalah, Liddell berlari dalam perlombaan terbesar dalam hidupnya, menghadapi lawan-lawan yang kita kenal, yakni keadaan yang sulit, peperangan, ketidakpastian, dan penyakit.

Berdesakan di dalam kamp tawanan Jepang bersama 1500 orang lainnya, Liddle menjalani hidupnya sesuai dengan 1 Korintus 13:6-8 yang diuraikannya dengan kata-kata sendiri menjadi "Kasih tak pernah merasa senang ketika orang lain melakukan kesalahan. Kasih membenci ketidakadilan, tetapi bersukacita dalam kebenaran. Kasih tidak tergesa-gesa dalam mengungkap sesuatu dan mengetahui kapan saatnya untuk tetap diam. Kasih itu senantiasa merindukan yang terbaik dalam diri seseorang. Kasih itu penuh pengharapan, kesabaran dalam menanggung segala sesuatu. Kasih tak berkesudahan."

Eric melayani para penghuni di kamp, entah itu mengambilkan air bagi orang yang lebih tua, atau menjadi wasit dalam permainan yang dilakukan para remaja. Ketika ia meninggal karena tumor di otaknya pada bulan Februari 1945, seorang tawanan menggambarkan dia sebagai seorang pria yang "hidupnya lebih baik dari khotbahnya".

Dalam perlombaan yang tersulit dalam hidupnya, Eric Liddell mencapai garis akhir dengan penuh kemenangan oleh kasih. —DCM

Oh, demi kasih yang tiada pernah berakhir.
Kasih yang kuat dan murni,
Menjangkau luas baik musuh ataupun sahabat.
Kasih itu akan senantiasa bertahan. —R. D Haan

Kasih memampukan kita berjalan tanpa takut, berlari dengan percaya diri, dan hidup berkemenangan.

Tuesday, May 13, 2008

Green Life

MANDAT BUDAYA dalam Krisis LingkUngan Hidup
HARUSKAH ORANG KRISTEN MENGERJAKANNYA ?

(Kejadian 1:27-28; 2:15)

Pemahaman Alkitab
Para teolog mengatakan di alkitab ada 2 mandat, yaitu mandat budaya dan mandat penginjilan. Kita udah terlalu sering mendengar di mimbar2 untuk mengabarkan Injil atau mandat penginjilan, yaitu sesuai yang tercantum dalam Matius 28:18-20. Namun kurang dalam meneriakkan kembali mandat budaya yang juga seharusnya dijalan seimbang dengan mandat penginjilan. Ayat2 dalam Kejadian 1:27-28; 2:15 sebagai wujud mandat budaya [cultural mandate].

Dalam Lausanne covenant (poin 5) disebut ’Kami menyatakan bahwa Tuhan adalah Pencipta dan juga Hakim atas semua manusia. Karena itu kami seharusnya juga membagikan perhatian-Nya pada keadilan dan pendamaian kepada seluruh manusia serta pembebasan pria dan wanita dari segala bentuk penekanan. Karena pria dan wanita diciptakan menurut citra Tuhan, setiap manusia, dengan tidak memandang ras, agama, warna, budaya, kelas sosial, jenis kelamin atau usia memiliki martabat intrinsik dan karena itu mereka darus dihormati dan dilayani, dan bukan dieksploitasi. Di sini kami menyatakan penyesalan atas pengabaian yang kami lakukan dan juga atas seringnya kami berpandangan bahwa penginjilan dan perhatian sosial adalah dua hal yang terpisah. Walaupun pendamaian dengan orang lain bukanlah pendamaian dengan Tuhan, kegiatan sosial bukanlah penginjilan, dan pembebasan politik bukanlah keselamatan, kami menyatakan bahwa penginjilan dan keterlibatan sosial politik adalah bagian dari tugas orang-orang Kristen. Keduanya dibutuhkan sebagai perwujudan doktrin Allah dan manusia, kasih kami kepada sesama manusia dan bentuk ketaatan kami kepada Yesus Kristus. Kabar keselamatan juga menyiratkan sebuah pesan penghakiman atas segala bentuk pengucilan, penekanan dan diskriminasi dan kita tidak perlu takut untuk menyingkapkan kejahatan dan ketidakadilan dimanapun hal tersebut terjadi. Ketika manusia menerima Yesus, mereka lahir baru ke dalam kerajaan Tuhan dan berkewajiban bukan hanya menyatakan namun juga menyebarkan kebenaranNya di tengah-tengah dunia yang tidak benar. Keselamatan yang kita terima seharusnya mengubah pribadi dan tanggungjawab sosial kita secara utuh. Iman tanpa perbuatan adalah mati.

Ini berarti dalam mandat budaya mengajak manusia bekerjasama oleh Allah [co-worker of god] dalam:
1. Melayani.  
Ini artinya Adam [tentunya juga manusia sebagai keturunannya] diberikan suatu perintah atau mandat untuk mengelola dunia dan isinya dengan bertanggung-jawab. Suatu tugas untuk juga memberikan hasilnya bagi manusia selama tinggal di dunia ini.
Ini nantinya bukan hanya dalam hal alam tetapi segala hal yang terkandung di dalamnya. sehingga muncul sains dan kebudayaan sebagai respon mandat budaya terhadap alam semesta.

Jadi disini manusia menjadi Chief Executive Officer [CEO]. Ini suatu jabatan yang tinggi sekali yang dikenakan kepada manusia oleh Allah. Manusia menjadi representatif dari Allah dalam memelihara dunia. Muaranya adalah supaya manusia sangat menikmati atau mencicipi sebagian kecil ’surga’ dunia dan mengucap-syukur dan memuliakan Allah yang memberikan alam semesta yang sempurna kepada manusia.

Setelah manusia mengelola: 
1. Kain tak bersyukur hasil perkebunan yang diberikan Allah kepada-Nya. Jadi Allah menolak persembahan Kain, salah satu penyebabnya adalah pemberian persembahan yang tak diikutidengan ucapan syukur.
2. Sedangkan Habel yang diberkati oleh Allah. Ia mengelola alam dengan benar dan mengucap syukur atas apa yang bisa dihasilkan darinya dan menikmatinya sebagai berkah dari Allah.

2. Memaksimalkan dunia [mengelola].
Ini nantinya bermuara kepada suatu pemahaman: melalui alam semesta manusia bisa mengenal akan Allah [Mazmur 19]. Dan melalui-nya manusia dibawa menuju penerangan dari dari wahyu umum kepada wahyu khusus. Maka ketika Adam mengelola dunia ini, Adam harus juga memberitahukan kepada seluruh keturunannya untuk bertanggungjawab melaksanakan mandat ini.

Konteks Kej 1:28 menyebutkan bahwa manusia memenuhi bumi dengan pemahaman bahwa ’pengembang-biakan’ manusia tak boleh keluar dari tujuan di atas. Jadi manusia ada untuk Allah, atau manusia ada untuk menjalankan mandat dari Allah. Akhirnya kehadiran manusia di dunia untuk menjalan misi Allah, bukan memenuhi misi pribadi, atau misi keluarga, atau misi komunitas/masyarakat mereka.

3. aplikasinya:
  • menggunakan kapasitas ’image of god’ yaitu ratio, hikmat, intuisi dari Allah dalam hidup kita untuk mewarnai dunia dengan kreatifitas yang ada pada diri kita.
  • Membawa manusia tunduk di bawah otoritas Firman Allah untuk mentransformasi dunia. Mempengaruhi dunia dengan hidup yang telah diubah oleh firman Allah. Gereja sebagai saksi dari teladan komunitas yang menjalankan mandat budaya, disamping mandat penginjilan. Terlebih setelah manusia jatuh dalam dosa, maka kematian Kristus seharusnya menjadi modal bagi setiap orang Kristen / Gereja sebagai suatu perwakilan komunitas untuk kembali mengontrol dan menjalankan mandat budaya yang sudah diselewengkan oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab.
  • Dan pada akhirnya semua ini adalah dikembalikan untuk kemuliaan Kristus dalam aspek kehidupan. Sasaran Mandat Budaya menghadirkan ke-Raja-an Allah di dunia ini ketika seseorang atau suatu komunitas / budaya melihat keagungan dunia/ alam semesta.
Apa yang Terjadi Ketika Manusia Gagal Menjalankan Mandat ini?
1. Dosa Merusak Mandat Budaya
• Masing-masing suku/budaya membanggakan kehebatan komunitas mereka
• Manusia melayani budaya/komunitas mereka bukan sebaliknya
• Alam dikelola untuk menghidupi mereka, sekarang menjadi manusia mengeksploitasikan untuk nafsu mereka.

2. Peperangan
• Kain membunuh Habel, Lamekh membunuh seorang pemuda.
• PD I dan PD II, dst....dst....

3. Bencana Alam
• Tsunami
• Krisis Lahan Hutan di seluruh dunia [kalimantan, Irian, dll] akibatnya banjir.
• Krisis energi global
• Krisis pemanasan global
• Pandangan manusia: alam sbagai alat pemuas nafsu bukan pendamping mereka untuk dapat melangsungkan hidup mereka dan keturunannya [cara pandang antroposentris]

Apa Yang Harus Dikerjakan

1. Menciptakan budaya yang menghormati dunia/alam semesta sebgai pendamping bukan alat pemuas ego manusia. Ini budaya ini yang nantinya mengatur pola hidup, cara kerja atau mengenai perilaku manusia terhadap alam dan manusia. Ingat dunia adalah sahabat kita.

2. mulai dengan prilaku yang sederhana: buang sampah, pola hidup [makan seenaknya, buang makanan yang tersisa, biopori, green-life, tissue, hindari plastik berlebihan.

Monday, March 31, 2008

KHOTBAH SULUNG

Hidup Ditengah Penggembalaan
[2 Samuel 12:7-14]

Keberadaan seseorang di dunia ini pasti ada tujuan / rencana Allah pada dirinya. Apa pun yang diterima seseorang (kekuasaan, kekayaan, kepintaran, dll), hanya sebagai alat untuk memuluskan penggenapan rencana Allah melalui dirinya atas dunia ini. Prinsip ini pun berlaku juga atas diri hamba-Nya, Daud.

Pemilihan Allah atas Daud adalah unik dan nampak menyalahi ’aturan’ yang biasa berlaku pada waktu itu. Daud bukan seorang yang perkasa, hebat atau memiliki sesuatu yang pantas untuk membuat dirinya terpilih. Sebaliknya, dia tidak memiliki sesuatu pun yang pantas menurut ukuran manusia sehingga terpilih menjadi seorang raja dan memimpin rakyat Israel.

Daud terabaikan atau bisa jadi terlupakan oleh ayah dan saudara-saudaranya namun tidak bagi Samuel, ketika sedang melakukan ‘penyortiran’ calon raja Israel. Ia bukan seorang yang secara sengaja dicalonkan dalam pemilihan calon raja Israel, namun secara mengejutkan, di luar dugaan manusia[ayah dan saudara-saudaranya], Tuhan malah memilih dia.
Allah memilih Daud supaya ia menjadi gembala bagi rakyat Israel, menjadi kepanjangan tangan Allah untuk membimbing umat Israel supaya semakin dekat kepada-Nya. Dengan harapan, supaya bangsa Israel menjadi bangsa pilihan yang dapat memberkati bangsa-bangsa lain. Dengan bimbingan-Nya, maka tujuan Allah agar bangsa Israel menjadi saluruan berkat [Kejadian 12:2] dapat terealisasi.

Sebagai manusia biasa, Daud memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Dalam perjalanan kepemimpinannya, dengan pertolongan Allah, ia banyak melakukan tindakan kepahlawanan sehingga dia dipuja-puji oleh rakyatnya. Tetapi, sekali waktu sebagai seorang pemimpin, dia pernah mengalami kegagalan. Sebagai seorang suami, dia pernah gagal. Sebagai seorang ayah, dia pernah gagal. Dan sebagai seorang Hamba Allah, dia juga pernah gagal. Kekuasaan dan kekuatan yang dipercayakan Allah untuk memimpin umat pilihan-Nya disalah-gunakan. Kekuasaan dan kekuatan yang seharusnya dipakai untuk tujuan mulia diselewengkan hanya demi untuk kepuasan sesaat. Hanya demi untuk mendapatkan Batsyeba, dia mempergunakan kekuasaan dan kekuatannya dengan ‘menyingkirkan’ Uria, suami Batsyeba.

Puji Tuhan, Allah yang telah memilihnya tidak membiarkan dia terpuruk dalam hidupnya yang gelap [liar?]. Daud yang seharusnya menjadi gembala, juga perlu digembalakan dari ‘keliaran’ hidupnya. Melalui Nathan, nabi-Nya, Allah menegur Daud. Sebuah teguran yang cukup menyentakkan Daud. Sungguh patut dipuji, melalui teguran itu, Daud menyadari ia bukan siapa-siapa. Daud menyadari bahwa ia hanyalah seorang manusia yang lemah, butuh teguran, butuh nasihat dan butuh bimbingan, butuh penggembalaan.

Mengacu pada peristiwa Daud, Saya pun menyadari siapa diri saya. Saya bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apa yang dapat saya banggakan yang menjamin saya terus berhasil, tidak pernah gagal. Saya hanyalah manusia berdosa yang telah diselamatkan, dipilih dan dipanggil untuk melayani Dia. Sebagai manusia yang banyak memiliki kelemahan dan keterbatasan, saya menyadari bahwa saya pun perlu mendapat ’penggembalaan’ dari Allah. Baik melalui keluarga, jemaat maupun orang lain di sekitar saya. Kiranya melalui ’penggembalaan’ itu semakin menyadarkan saya untuk bersikap rendah hati, siap dibentuk dan bergantung sepenuhnya kepada Dia. Jadi saya bukan hanya menggembalakan tetapi juga butuh penggembalaan dari Nathan Nathan yang menggembalakan diri saya.

Puji Tuhan pada kesempatan ini saya dipercayakan Allah. Menjadi kerinduan dan doa saya, kiranya jabatan rohani yang dipercayakan kepada saya ini menjadi alat untuk mendorong saya semakin giat menggembalakan umat yang dipercayakan Allah kepada saya. Dengan pertolongan Tuhan, Allah semesta alam, saya mampu menjalankan tugas ini dengan penuh kerendahan hati, tidak lalai dan sungguh-sunguh bertanggung jawab kepada-Nya. Amin.

Friday, December 30, 2005

Renungan Akhir Tahun

Menanti Yang Tiada Terlihat
1 Sam 1:1-83; Roma 8:22-28;

renungan bagi kita untuk berani melangkah dan menatap masa depan yang penuh dengan krisis

Pendahuluan
Kehidupan masa depan selalu didambakan setiap orang, sehingga tidak sedikit orang yang mencoba berusaha untuk mengetahui tentang masa depannya. Ia berusaha mencari Futurolog (ahli meramal masa depan) atau ahli Feng Shui, atau melalui Horoskop, dll. Sebagai anak-anak Tuhan, apakah kita tidak boleh mengharapkan dan mengetahui masa depan kita, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada masa sekarang ?

Munculnya keinginan untuk mengetahui masa depan dikarenakan manusia ingin mendapatkan suatu kepastian dalam dunia yang tidak pasti. Oleh sebab itu, dalam Mat 6:25-34 Tuhan Yesus mengingatkan umat-Nya yang sedang galau menapaki kehidupan masa depan yang tak pasti. Ia tahu sisi buram dari kehidupan manusia ini dengan memberikan penghiburan melalui ilustrasi kehidupan keseharian yang dapat mereka lihat. Ia tidak memberikan pelajaran doktrinal atau wejangan-wejangan yang tinggi-tinggi.

Mengapa muncul kekuatiran dalam kehidupan kita sebagai manusia ? Tentu kekuatiran adalah sesuatu yang normal dan alamiah adanya, tiada sesuatu yang salah. Menjadi masalah ketika kita mengatasi kekuatiran dengan mencari jalan keluar di luar Tuhan, yang menciptakan kita. Kalau kita sedang gundah-gulana, mana mungkin Tuhan [yang menciptakan dan mengasihi kita] dengan tenang melihat anak-anak? Tak sedikit anak-anak Tuhan kurang sabar dan peka mendengar suara Tuhan dan ingin berjalan sendiri.

Kekuatiran acapkali menggoncangkan iman kita atau mengaburkan mata kita untuk melihat ‘karya’ Tuhan di balik pergumulannya. Hana menghadapi kekuatiran juga, ia mendapati hidupnya dipenuhi kegundahan karena tiadanya jaminan yang pasti mengenai kehidupan rumah-tangganya. Hana selama menikah tidak dikarunia seorang anak yang diharapkannya, apalagi Penina (istri ke 2 Elkana) selalu menghina dia. Namun yang patut diteladani adalah langkah yang diambilnya. Ketika ia menghadapi kesulitan, Hana datang kepada Tuhan, berseru, berteriak, menangis atas apa yang dialaminya.

Ada hal yang menarik, yaitu Tuhan sama sekali tidak memberikan jawaban atau janji kepada Hana. Namun harus dengan tekun berharap, berdoa dan menyampaikan keluhannya kepada Dia (bandingkan Rom 8: 26-27). Dan Imam Eli lah yang ‘menegur’ dan memberikan harapan kepadanya. Respon Hana sungguh luar-biasa, ia meng-amin-kan perkataan dari utusan Allah ini. Ia tidak meragukan, menanyakan atau berdebat sama sekali ucapan Iman Eli.

Tuhan akhirnya mengingat doa Hana dan memberikan pengharapan yang indah kepada Hana – Elkana (1 Sam 1:19). Sekali lagi hal yang patut diteladani dari Hana, yaitu Ia menepati janji / Nazarnya kepada Tuhan (1 Sam 1:11; 27-28). ‘seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan’… ini perkataan yang agung keluar dari mulut seorang perempuan yang telah belajar beriman dalam menjalani kehidupan masa depannya. Kalau Tuhan telah memelihara masa depannya, maka ia yakin Tuhan juga memelihara anak kesayangannya.

Refleksi:
1. Apakah hidupmu memiliki kekuatiran ? Bagaimana engkau mengatasinya: dengan kekuatan diri atau mencari Tuhan ? ataukah mencari Tuhan setelah jalan yang kita usahakan sendiri mengalami kebuntuan ?

2. Menjelang akhir tahun 2005 ini selesai dan akan menghadapi tahun 2006, adakah janji-janji kita kepada Tuhan yang belum kita genapi ? Apakah yang menjadi tekadmu di tahun 2006 di hadapan Tuhan ?

bandung, 30 des 05