Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, September 19, 2009

Kalender Libur 2010

TIGA MENTERI TANDATANGANI SKB HARI LIBUR NASIONAL TAHUN 2010

Hari libur nasional 2010, Jumat (7/8) diumumkan setelah tiga menteri menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB). Penetapan hari libur nasional disepakati rapat empat menteri yang dipimpin Menko Kesra Aburizal Bakrie, di Jakarta. SKB tersebut bernomor:1 Tahun 2009, Nomor: SKB/13/M.PAN/8/2009, dan Nomor : KEP.227/MEN/VIII/2009, tertanggal 7 Agustus 2009 tentang Hari Libur Nasional 2010.

Tiga menteri yang menandatangani surat keputusan bersama tersebut Menteri Agama M Maftuh Basyuni, Menakertrans Erman Suparno dan Meneg Pemberdayaan Aparatur Negara Taufik Efendi. Adapun hari-hari libur nasional 2010 sebagai berikut

1. Jumat, 1 Januari Tahun Baru Masehi

2. Minggu, 14 Februari Tahun Baru Imlek 2561

3. Jumat, 26 Februari Maulid Nabi Muhammad SAW

4. Selasa, 16 Maret Nyepi Tahun Baru Saka 1932

5. Jumat, 2 April Wafat Yesus Kristus

6. Kamis, 13 Mei Kenaikan Yesus Kristus

7. Jumat, 28 Mei Raya Waisak 2554

8. Sabtu, 10 Juli Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

9. Selasa, 17 Agustus Hari Kemerdekaan RI

10.Jumat dan Sabtu 10-11 September, Idul Fitri 1 Syawal 1431 H

11.Rabu, 17 November Idul Adha 1431 H,

14.Selasa, 7 Desember Tahun Baru 1432 H

15.Sabtu 25 Desember Hari Raya Natal.

Sedangkan untuk cuti bersama ditetapkan hanya tiga hari yakni,

* Kamis 9 September cuti bersama Idul Fitri;

* Senin 13 September cuti bersama Idul Fitri

* dan 24 Desember cuti bersama Natal.

NB: tambahan untuk Imlek selama beberapa tahun ke depan

YearChinese New Year BeginsAnimal Sign
2009 January 26 (Ox)
2010 February 14 (Tiger)
2011 February 3 (Rabbit)
2012 January 23 (Dragon)
2013February 10 (Snake)
2014January 31 (Horse)
2015February 19 (Sheep)
2016February 8 (Monkey)
2017January 28 (Rooster)
2018February 16 (Dog)
2019February 5 (Pig)

Sedangkan untuk cuti bersama ditetapkan hanya tiga hari yakni,

* Kamis 9 September cuti bersama Idul Fitri;

* Senin 13 September cuti bersama Idul Fitri

* dan 24 Desember cuti bersama Natal.

note: dari berbagai sumber.

Monday, December 24, 2007

“ Kisah Kasih Natal: Masih Menggetarkan hidup rohani kita?”

Ditengah – tengah kebingaran dan gemerlapnya entertainment dunia, menjadi suatu tanda tanya besar dalam hati saya, apakah masih ada suatu tanda / makna[1] (lihat kata ‘tanda’ dalam Luk 2:12,) dari tahun demi tahun atas rutinitas Natal yang diperingati (baca: dimeriahkan) oleh orang-orang Kristen? Adakah ‘getaran’ Natal masih ‘menggoncangkan’ ke’kelabu’an, ke’galau’an serta keletih-lesu-an (akibat resesi ekonomi/bisnis, masalah dalam kehidupan rumah-tangga, masalah hubungan orang-tua/merta dan anak/menantu; masalah kesehatan, masalah pendidikan, dll.) atas hidup yang kita jalani (bnd. Mat 11:28-30)? Bukankah Natal sudah menjadi suatu komuditas dunia belaka ? Bukankah Natal hanya menjadi suatu rutinitas ekonomi yang tak mungkin tak lebih dari sekedar itu ? Bahkan Natal bagi sebagian entertainer menjadi lahan job yang berkelimpahandan menggiurkan.

Kalau kita mengamati kartu Natal pada masa sekarang, adakah kartu-kartu itu menyiratkan berita Natal pertama ? Adakah kartu itu mewartakan kasih dan pengorbanan sang Anak yang telah menjadi manusia ? Ach… akhirnya kartu Natal hanya menjadi suatu instrumen ‘komunikasi-sapaan’ antara si pengirim dan penerima atau antara memenuhi tuntutan hukum demand dan supply. Tak lebih dan tak kurang ! Mari kita maju selangkah lagi dengan melihat peringatan Natal di Gereja ? Adakah Natal menjadi instrumen Allah yang dapat menggetarkan seluruh kehidupan jemaat ? Ach… Natal berarti bagi sebagian orang (panitia Natal, lebih-lebih seksi Acara dan Dekorasi) adalah kesibukan yang melelahkan ! Lalu kalau melihat acuan-acuan tersebut masih adakah keajaiban kasih (Natal) dari Allah kepada manusia ? Adakah getaran dawai dari alunan Natal itu masih menggoyangkan seluruh sendi kalbu rohani kita ?

Natal pada kali pertama menjadi bermakna karena ‘getaran’ yang menggema ke seluruh pelosok dunia, walau dengan interpretasi masing-masing, misal dalam peristiwa :
- pra-natal yang sudah menggetarkan seluruh sendi calon ‘keluarga’ Yusuf – Maria (Luk 1: 26-38). Apakah berita malaikat itu ‘berkat’ (ay. 30) atau malapetaka bagi Maria ? Sungguh itu berita yang menggoncangkan seluruh impiannya untuk menikmati hari pernikahan yang indah.
- Raja Herodes yang ‘ketakutan’ menghadapi Natal, karena ‘tahta’ yang sedang disandangnya akan lenyap seiring dengan kehadiran Yesus. Berita dari Natal dari orang Majus itu secara ajaib membuat Herodes tidak tenang sebelum melihat siapakah Anak yang dimaksud !
- Orang Majus yang tersentak atas petunjuk atau tanda bintang di langit (bintang yang menandakan kelahiran-Nya), sehingga mereka rela meninggalkan kampung halamannya yang begitu jauh hanya DEMI memberikan penghormatan Anak (Mat 2:2).
- Para gembala yang sangat terkejut (Luk 2:9) karena mendapat lawatan Allah yang luar biasa. Mungkin mereka terkejut karena di tengah rutinisasi mendapat ‘sidak’ (inspeksi mendadak) dari malaikat Allah, mungkin mereka juga berpikir: ’mengapa mereka yang sederhana mendapat hak istimewa ?”. Yang pasti Natal pertama telah menggetarkan mereka untuk segera menemui sang Raja yang telah mereka dengar beritanya dari malaikat.
- Dll.

Natal menjadi sesuatu yang ajaib karena berita ‘baik’ (walau tidak bagi raja Herodes), karena selama bertahun-tahun mereka mengalami kehausan rohani yang luar biasa (lihat ekspresi umat terhadap kehadiran Yohanes Pembaptis, Luk 3:15; Yoh 1:19-25). Berita Natal telah menjanjikan asa akan adanya suatu pesta rohani terbesar bagi tanah perjanjian yang penuh susu dan madu ini. Natal telah merealisasikan janji sang Pembebas bagi umat manusia yang telah lama terbelenggu kegelapan. Natal menjadi secercah sinar yang menerangi lorong panjang dari kegelapan hidup manusia.

Kalau demikian dimana letak keajaiban kasih Allah di hari Natal ini? Sesungguhnya sangat sederhana makna yang dapat kembali kita gali:

1. Kasih yang menjadikan Anak Allah dari Tak Terbatas menjadi Terbatas
Hal yang luar biasa adalah bagaimana mungkin Allah yang tak terbatas rela membatasi diri-Nya. Ditengah-tengah hiruk pikuk demonstrasi yang sekarang berkembang, yang mana semua orang pada berteriak untuk memberitahukan bahwa eksistensi dan haknya perlu dihargai, didengar dan kalau perlu diterima, sungguh berita ‘kelahiran Yesus’ adalah sesuatu yang ajaib. Dunia masa kini sedang mencari kuasa diri yang tak terbatas, namun sebaliknya Natal pertama memberitakan karena kasih Ia rela melepaskan kuasa dan membatasi dirinya hanya menjadi manusia, tak lebih tak kurang !

Sesungguhnya Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, namun Ia membatasi diri dalam tubuh insani yang terikat oleh ruang dan waktu. Allah adalah roh yang dapat menembus dinding apa pun, tetapi Ia yang telah menjadi manusia (kenosis)tidak dapat menembus dinding, dll. Ia kini tidak dapat bebas lagi sebagaimana sebelum peristiwa kenosis.. Suatu pengorbanan yang dapat menjadi teladan bagi kita ditengah dunia yang sedang haus kekuasaan dan mementingkan diri sendiri.

2. Kasih Yang Mengorbankan Diri
2 Kor 5:21 :”Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Adalah hal yang tidak masuk akal adalah Allah yang kekal dan tidak mungkin binasa, namun sekarang menjadi binasa karena dosa yang tidak diperbuat-Nya (lih. 1 Kor 15:3). Memang kasih yang ajaib itu memang banyak manusia heran dan takjub, namun itulah essensi dari kasih Allah, yaitu kasih yang mengorbankan diri. Kasih yang merelakan diri untuk memikul dosa manusia melalui peristiwa kayu salib, supaya kita yang berdosa dapat diselamatkan dan mengalami pemulihan relasi dengan Allah Bapa.

Adalah mudah bagi Allah Tritunggal untuk memandang manusia sebagai pesakitan dengan ketidak-acuhan, ketidak-taatan atas pemberontakan manusia. Adalah lebih mudah bagi Allah untuk menghancurkan, menghajar, menghukum dan membinasakan mereka daripada mengorbankan Anak-Nya untuk manusia yang berdosa (Yoh 3:16). Adalah lebih mudah bagi Allah untuk mencari kesalahan manusia sehingga Dia dengan legal dan absah untuk mencambuk mereka setimpal kesalahan mereka. Namun ternyata Ia tidak melakukan itu semua, hal yang menakjubkan, yaitu Ia justru melakukan sesuatu bukan kepentingan diri. Ia bukan Allah yang mempergunakan kekuasaan-Nya untuk diperlakukan sewenang-wenang melainkan karena kasih yang ajaib itulah Ia mengorbankan diri-Nya agar yang tersesat kembali bertobat. Manusia memang menjadi objek dari kasih Allah yang ajaib itu.

3. Kasih Yang Telah Menghapus Tembok Pemisah
Kehadiran-Nya di dunia adalah untuk turut merasakan ketidakberdayaan manusia. Manusia yang semula dicipta oleh Allah dengan sempurna dan mulia menjadi hina dan papa karena pelanggaran mereka semata atas perintah Allah. Dosa telah membuka tembok-tembok strata dalam manusia. Dosa telah memilah manusia dengan kategori / status yang hina dan ningrat; antara yang bodoh dan terdidik; antara kaya dan miskin, de es te…dst….

Ia hadir untuk menghancurkan seluruh pilar-pilar pemisah di antara manusia. Kehadiran-Nya kepada kaum berdosa (Luk 7:39; 19: 1-10; Yoh 4:1-42; 8:4-11) telah ‘merusak’ tatanan masyarakat Yahudi (walau tidak agamis) yang berlaku pada saat itu; Ia hadir kepada orang kusta yang dianggap ‘sampah agama’ (Luk 17:11-19); Ia hadir kepada kaum gembala yang dianggap orang sederhana (Luk 2: 8-20); namun Ia juga hadir bagi orang yang dianggap ‘pintar’ pada masa itu (Mat 2:1-12); orang yang kaya (Luk 19:1-10); orang yang sangat beragama (Yoh 3:1-21) dan masih banyak lagi orang-orang yang mempunyai ragam status sosial di masyarakat. Natal menjadi berita ajaib karena kehadirannya telah meruntuhkan seluruh tembok – tembok pemisah yang telah dibangun dan dipelihara oleh manusia. Kehadiran-Nya telah menjembatani kehidupan antar manusia yang telah dipenuhi ‘jurang-jurang’ pemisah.

Akhir kata, saya rindu Natal kembali menjadi suatu ‘tanda’ yang menggetarkan seluruh relung kehidupan rohani kita. Natal kembali menjadi ‘tanda’ rekonsiliasi bagi pemulihan relasi Allah – saya; saya – keluarga, saya – sesama. Adakah saudara mau merasakan kembali keajaiban Natal yang pertama? Mintalah Ia kembali melawat hidup pribadi dan keluarga kita, Amin.
[1] semia (Ind: Tanda, ajaib, mujizat). Biasanya kata ini digunakan untuk membedakan sesuatu yang lain dari biasanya; untuk menjadi tanda yang menyatakan sesuatu yang istimewa daripada yang lainnya (lihat 1 Kor 1:22), sehingga orang bisa mengenalinya. Lihat orang Majus bisa mengenali suatu ‘bintang’ dari begitu banyak bintang yang bertebaran di langit..

Tuesday, October 30, 2007

Leaders On Leadership

Berhubung saat-saat ini aku lagi menulis tesis tentang Pengaruh Gaya Kepemimpinan Gembala terhadap Kinerja Majelis Gereja Kristen Kalam Kudus, maka aku kutip pendapat dari Bernard M. Bass tentang arti kepemimpinan sebagai berikut:

(1) Kepemimpinan adalah sebagai fokus dari proses kehidupan kelompok.
Beberapa ahli yang muncul pada awal abad XX memiliki kecenderungan untuk melihat pemimpin sebagai satu fokus dari perubahan, aktivitas dan proses dari kehidupan suatu kelompok. Kecenderungan yang ditimbulkan oleh pendapat ini ialah bahwa perhatian telah diarahkan kepada kepentingan struktur dan proses kelompok dalam kepemimpinan. Definisi kepemimpinan, khususnya pada sisi ini ialah bahwa pemimpin telah diartikan sebagai "orang yang tempatnya di atas atau di depan kelompoknya." Kecenderungan lain yang menopang definisi ini ialah adanya lokasi sentral untuk mengontrol struktur dan sistem kehidupan kelompok, komunikasi, dsb., dan hal mana dengan sendirinya menempatkan seseorang dalam posisi kepemimpinan.

(2) Kepemimpinan adalah sebagai personalitas dan efek-efeknya.
Konsepsi ini muncul dari pandangan bahwa beberapa orang ternyata lebih baik dan lebih mampu dari yang lain dalam peranan kepemimpinan. Kekuatan personalitas dianggap dapat mengangkat seseorang pada definisi kepemimpinan. Definisi contoh untuk ini adalah sbb.: “a leader is a person who possesses the greatest number of desirable traits of personality and character" (Bass 1981:8, for Bingham-1927). Kecenderungan bagi para teoritikus Kepemimpinan Personalitas ialah mereka menekankan bahwa leadership as a one-way influence. Hal yang terlupakan di sini ialah adanya ;hubungan timbal balik dan interactive characteristic dari situasi kepemimpinan yang melibatkan para bawahan serta Kondisi/situasi yang dalam mekanisme sosial yang saling mempengaruhi dan secara sosial mendorong seseorarg pribadi ke arah potensi menjadi pemimpin. Perlu disadari,I pula bahwa faktor personalitas pribadi turut berperan dalam kepemimpinan, tetapi yang perlu diawasi ialah tekanan ekstrim yang nantinya mencipta "pemimpin-pahlawan" yang cenderung menjadi otokratis berat.

(3) Kepemimpinan adalah sebagai seni penyebab terwujudnya pemenuhan pencapaian.
Salah satu definisi diwakili oleh Munson (1921) mendefinisikan kepemimpinan sebagai "the ability handle men so as to achieve the most with the least friction and the greatest coorporation...(Bass 1981:9). Kecenderungan yang paling kuat dari definisi ini ialah adanya tekanan pada individualitas pemimpin dengan pengaruh terarah yang ada padanya, yang olehnya pemimpin mempengaruhi kelompok untuk menerima kehendaknya sebagai kehendak mereka. Salah satu bahaya yang jelas dari konsep ini ialah adanya kecenderungan ke arah mendukung kepemimpinan otoriter berat yang tidak menghargai hak, keinginan dan kebutuhan anggota kelompok. Di samping itu, ada fakta yang tidak boleh diingkari yaitu adanya kenyataan otoritarian, direktif dan kursif dalam kepemimpinan yang dapat diterapkan secara ekstrim. Disini pemimpin dapat dianggap segala-galanya bagi dan dalam kepemimpinan. Karena itu, bahagian ini hanya menekankan tentang fakta bahwa kepemimpinan itu penting, dimana kepemimpinan menentukan penyebab dan dinamika yang menggerakkan usaha untuk memenuhi sesuatu yang ingin dicapai.

(4) Kepemimpinan adalah sebagai pelaksanaan pengaruh.
Definisi ini cenderung mengarah kepada generalitas dan abstraksi dalam menjelaskan tentang kepemimpinan. Sebagai contoh, Stogdill (1950) menjelaskan kepemimpinan sebagai "the process (act) of influencing the activities of an organized group in its efforts (Bass 1981:9). Kepemimpinan di sini dilihat sebagai "proses pengaruh", yang secara khusus menekankan tentang kepemimpinan yang melaksanakan "efek yang telah ditetapkan sebelumnya yang diarahkan dalam menggerakkan sikap dan kegiatan anggota-anggota kelompok." Bass dalam tulisan lain (1990) membedakan successful leadership" dan effective leadership, dengan konsepnya tentang attempted leadership. Konsep ini didasarkan atas usaha mengubah perilaku, dimana bila perilaku anggota-anggota kelompok sungguh berubah, maka ini dapat merupakan bukti dari kepemimpinan yang berhasil. Sedangkan apabila ada reinforced or rewarded yang mengubah perilaku anggota-anggota kelompok/bawahan yang menggerakkan usaha pencapaian sasaran, ini menandakan adanya kepemimpinan yang efektif. Yang perlu diperhatikan dan definisi ini ialah adanya kecenderungan bahwa peranan dan tanggung jawab para bawahan yang disepelekan, dimana kepemimpinan dapat dianggap sebagai "manipulasi psikologis" yang bersifat satu arah saja.

(5) Kepemimpinan adalah sebagai suatu kegiatan atau perilaku terarah.
Pada bagian ini kepemimpinan dilihat sebagai suatu kegiatan atau perilaku yang menggerakkan dalam proses kepemimpinan. Sebagai contoh, Shartie (1956) mendefinisikan a leadership act sebagai "sesuatu yang menyebabkan adanya kegiatan atau respons kepada arah yang sudah dijabarkan bersama" (Bass 1981:10). Selanjutnya ditekankan bahwa kepemimpinan diarahkan untuk menjelaskan tentang "pemimpin yang terlibat dalam kegiatan pengarahan dan koordinasi kerja dari anggota kelompok. Hal ini melibatkan penstrukturan hubungan kerja, memuji dan mengritik anggota kelompok menunjukkan pertimbangan atas kesejahteraan dan perasaan mereka (Bass 1981:10). Tegasnya, kegiatan atau perilaku pemimpin (leadership act) adalah dasar mewujudkan kepemimpinan. Respon anggota-anggota kelompok terhadap perilaku pemimpin menandakan adanya kepemimpinan yang efektif. Yang perlu diwaspadai ialah bahwa kepemimpinan dilihat sebagai mekanisme sosial yang memperlakukan manusia sebagai mesin.

(6) Kepemimpinan adalah sebagai suatu bentuk persuasi.
Konsep ini diketengahkan dalam usaha menjagal faktor kursif dalam kepemimpinan, yang menempatkan pemimpin sebagai sentra penentu dalam hubungan dengan para pengikut. Di sini, bentuk persuasi dalam performansi manajemen memperoleh tempat utama. Schenk (1928) mengatakan bahwa "leadership is the management of men by persuasion and inspiration rather than by the director or implied threat of coersion. It involves immediate concrete problems by applying knowledge of, and symphaty with human factors" (Bass 1981:10-11). Sikap persuasi dianggap sebagai sifat yang kuat yang membentuk ekspektasi dan keyakinan -- dalam kepemimpinan, khususnya dalam bidang sosial, politik dan agama. Sikap persuasi dianggap bernilai positif, dibanding dengan sikap kursif (coersive) dalam kepemimpinan. Perlu pula disadari bahwa disini faktor persuasi sangat ditekankan sehingga mengabaikan faktor kursif, padahal, faktor kursif ini adalah penting dalam kepemimpinan. Dengan sikap/faktor kursif ini, pemimpin dapat bertindak tegas terhadap para bawahan yang tidak berdisiplin.

(7) Kepemimpinan adalah sebagai hubungan kuasa.
Tekanan yang diberikan di sini ialah "hubungan kuasa differensial" di antara anggota kelompok, dimana "kuasa interpersonal dengan kekuatan maksimum dari seseorang (pemimpin) kepada seseorang lain (bawahan) dengan kekuatan kurang dari maksimum akan menjadi penyebab penggerak ke arah yang bertentangan." Konsep ini sangat berhubungan dengan lima kuasa dasar, yaitu: referent power (liking), expert power, reward power, coersive power, dan legitimate power (Bass 1981:11). Untuk ini, Yonda (1960) memberikan definisi kepemimpinan, bahwa leadership as particular type of power relationship characterized by a group member's perception that another group member has the right to prescribe behavior patterns for the former regarding his activity as a member of a particular group (Bass 1981:11). Kuasa di sini dilihat sebagai influence relationship yang adalah dinamika kepemimpinan. Kuasa kepemimpinan menjadi suatu kekuatan positif bila ada pengendalian dalam hubungan pemimpin-bawahan. pendekatan ini, apabila diterapkan dengan wajar, akan membawa kepada pengembangan sikap saling percaya, kuterbukaan dan partisipasi aktif (trust building, openness dan participatory). Hal yang harus disadari ialah adanya pemahaman serta penerapan "Kuasa Kepemimpinan" yang salah dan ekstrim sehingga muncul sikap otokrat mutlak (diktator) dalam kepemimpinan. Faktor otokrat tentunya penting dalam kepemimpinan, walau demikian, akan menjadi salah (apabila salah digunakan) dimana kuasa dijalankan dengan sikap otokrat/ekstrim, sehingga menciptakan gaya kepemimpinan diktatoristik.

(8) Kepemimpinan adalah sebagai alat pencapaian tujuan.
Kepemimpinan dalam pengertian ini dilihat dari segi nilai instrumentalnya untuk mencapai tujuan / sasaran (objectives) dari kelompok, dimana kepemimpinan dilihat sebagai alat pemuas kebutuhan. Cowley (1928) berkata a leader is a person who has a program and is moving toward an objective with his group in a definite manner (Bass, 1981:12). R.C. Davis (1942) mengatakan leadership as the principal dynamic force that stimulates, motivates, and coordinates the organization in the accomplishment of its objectives. Kepemimpinan dalam kaitan ini dilihat dari sisi lain oleh K. Davis (1953) yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah the human factor which binds a groups together and motivatess it toward goals (Bass 1981:12). Kepemimpinan di sini untuk mencapai tujuan/sasaran (objective) darn organisasi. Dengan adanyaa kepemimpinan, maka ada kekuatan yang menggerakan (faktor manusia) ke arah tujuan/sasaran yang telah direncanakan. Kekeliruan serius yang akan terjadi ialah apabila kepemimpinan dilihat hanya sebagai slat, dimana kepemimpinan akan digunakan untuk menguntungkan pemimpin secara sepihak. Dan lagi kepemimpinan dapat menjadi slat penindasan, pada hal kepemimpinan seharusnya adalah untuk membangun, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

(9) Kepemimpinan adalah sebagai efek yang berkembang karena interaksi.
Kepemimpinan di sini dijelaskan sebagai efek yang timbul dari interaksi antara pemimpin dan bawahan dalam lingkungan kerja (organisasi). Bogardus (1929) mengatakan, leadership as a social process, leadership is that social interstimulation which causes a number of people to set out toward an old goal with new zest -- or a new goal with hopeful) courage -- with different persons keep different places (Bass 1981:12). Tekanan yang perlu disimak ialah fakta bahwa kepemimpinan berkembang dari proses interaksi sosial antara pemimpin (aksi) dan anggota kelompok/bawahan (reaksi); dengan adanya pengakuan dan dukungan dari anggota kelompok terhadap pemimpin, sebagai bagian dari interstimulasi sosial dalam proses kepemimpinan. Dengan definisi seperti ini, kepemimpinan menempati posisi penting dalam mekanisme sosial, tetapi, hal yang perlu disadari ialah bahwa apabila tidak terjadi proses interstimulasi, maka dapt disimpulkan bahwa tidak ada kepemimpinan.

(10) Kepemimpinan adalah suatu peranan yang berbeda.
Kepemimpinan dilihat sebagai penyelenggaraan peranan (role) yang berbeda-beda antara pemimpin dan bawahan dalam keseluruhan struktur organisasi di man Aepuxnimpinan dilaksanakan. H. Jennings (1956) mengatakan leadership thus appear as a manner of interaction involving behavior by and toward the individual 'lifted' to a leader role by other individuals. (1981:13). Pemahaman kepemimpinan di sini meliputi kesadaran akan kenyataan bahwa kepemimpinan adalah pencapaian goal dan kepemimpinan pun adalah suatu produk interaksi dan peranan yang berbeda-beda antara pemimpin-bawahan. Konsep ini menopang pengembangan suatu teori kepemimpinan yang koherent dalam upaya pelaksanaan kepemimpinan. Pendekatan ini diakui bahwa baik pemimpin maupun bawahan sama-sama memiliki peranan yang berbeda-beda, dan keduanya memiliki tempat yang khusus dalam proses kepemimpinan.

(11) Kepemimpinan adalah sebagai inisiasi struktur
Tekanan yang menjelaskan tentang kepemimpinan disini diberikan pada originating and maintaining role structure. Anggota kelompok dibedakan satu dari yang lain dengan melihat tempat dimana setiap orang berada dalam struktur organisasi serta bagaimana tugas mereka diorganisir. Organisasi membentuk struktur dalam suatu hirarki. Dalam struktur ini, stimulasi pemimpin akan memberi struktur kepada perilaku anggota yang berada dalam matriks organisasi tersebut. Berkenaan dengan kepemimpinan yang dilihat dari perspektif ini, Hemphill (1954) mengatakan, to lead is to engage in an act that initiates a structure in the interaction as part of the process of solving mutual problem (Bass 1981:14).

dikutip dari Bernard M. Bass "Stogdill's Handbook of Leadership" [1981, hal.7-14]

Tuesday, August 28, 2007

LOVe And MArRIEd

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamudan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting.

Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamutelah menemukan cinta". Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.


Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?" Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja,dan saat berjalan tidakboleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang palingmenakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi didepan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut.


Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,"Apa itu perkawinan?Bagaimana saya bisa menemukannya?"Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana.Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelahmenjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong.Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

catatan kecil :
Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih.Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapatadalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur.Terimalah cinta apa adanya.Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangikesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Monday, December 04, 2006

He is The Real Man

Tak sedikit orang berpendapat bahwa keperkasaan / kesejatian kaum pria diukur dari seberapa banyak materi [uang, mobil, rumah dll.] dan seks [makanya sekarang banyak obat-obat kuat beredar di toko-toko obat untuk mem-perkasa-kan ke-pria-an seorang lelaki]. Wacana ini semakin terlihat jelas dari beberapa kasus yang sekarang lagi in... kasus video porno [dari kalangan artis, pejabat, politikus dan mahasiswa. Ini berarti segala lapisan menjadi rusak karena wacana di atas? walahualam! Belum lagi kasus kalangan rohaniawan di amrik.] dan kasus poligami yang lagi 'in' sehingga sampai SBY harus turun tangan 'mencampuri' urusan pribadi publik [begitu yang protes akan PP yang akan dikeluarkan oleh pemerintah]. Dan kaum wanita mengetahui hal ini dan [maaf] memanfaatkan kelemahan kaum pria ini. Kaum wanita memberi seks untuk mendapat materi para pria; sedangkan kaum pria memberikan materi untuk mendapat seks para wanita.

Tuhan Yesus datang tepat sebagai seorang pria [a man] ke dunia [napa ia kagak jadi wanita? wah ini harus dibahas lagi di topik lain deh :)]. Ia datang tak sekedar sebagai seorang Savior yang mengangkat seluruh umat manusia dari lumpur dosa tetapi juga memberdayakan ke-PRIA-an setiap para pria. Yesus tahu dan mengenal setiap kondisi para pria, yang tak sedikit kali selalu sok tahu padahal tak banyak hal ia tahu; ia merasa kuat padahal sesungguhnya ia butuh penolong untuk mengatasi kelemahannya.

Ia datang menjadi pria, agar para pria dapat meneladani kehidupan kemanusiaan-Nya. Dalam kemanusiaan, Ia mengakui segala kelemahan-Nya, kehausan-Nya, dan keterbatasan-Nya dalam waktu dan fisik, sehingga ia dengan keterbatasan-Nya ia tak menyia-nyiakan waktu yang ada dan menyelesaikan segala tugas yang diemban-Nya selama di dunia. Dalam keterbatasan-Nya ia selalu bersandar kepada Sang Bapa, sehingga setiap hari Ia datang berdoa kepada Allah Bapa. Kita para pria? setiap bangun dari tidur sudah memikirkan ego kita [bisnis, hutang, karir, seks, dll].

Tuhan, terima kasih atas kehadiran-Mu bagi kami para pria.

Tuesday, November 28, 2006

Everything Vain without God


Kapan kita terakhir memikirkan Tuhan ??
Flavio Briatore, seorang pria yang flamboyan, yang hidupnya dipenuhi segala sesuatu: materi yang berlimpah, wanita-wanita cantik [Adriana Volpe, Naomi Campbell, Heidi Klum hingga yang terakhir E. Gregoraci, yang selalu siap menjadi pacarnya] dan keglamouran dunia F1; suatu hari mengatakan seperti ini:
"Kita berpikir bahw mungkin semua yang telah kita bangun akan diperlkan sampai pada saat-saat tertentu. Bisa jadi, itu malah tiada gunanya".

F. Briatore, 56 th yang biasanya hidup dalam optimisme tinggi, tiba-tiba rapuh. Seorang Briatore yang telah mengatarkan kejayaan Benetton [1990-an] dan Renault [05 dan 06] akhirnya diujung kesadaran bahwa power yang lebih dahsyat dari dirinya, "Kita selama ini merasa kebal dan abadi. Sebaliknya kita harus berterima kasih kepada Tuhan setiap pagi karena kita masih bisa bernafas." Ini diucapkan ketika ia mengalami kesunyian, kerapuhan oleh kanker hati yang menghantam ginjal sebelah kirinya. "Saya terkena kanker yang parah. Jika saya tak melakukan check up rutin, mungkin dalam 6 bulan saya akan mengalami nasib yang tidak saya inginkan."

Hal apakah yang bisa memaksakan diri anda untuk bisa di'pojok'kan supaya anda angkat tangan akan kemampuan diri sendiri dan pasrah kepada Tuhan? Bukankah lebih indah, bila kita sendiri sadar dan segera datang kepada Dia dan mohon ampun ! Sehingga sisa hidup kita bisa kita berikan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat bagi sesama? [Pengkh 12:1]

Sunday, May 07, 2006

BEL[r]ajar/syukur

bel adalah peng-ingat bagi kita untuk banyak hal. zaman sekarang alarm menjadi pengganti alat pengingat. namun intinya sama: supaya kita diajar untuk be[r]syukur. sebab kadang kesibukan dan rutinitas lebih sering memacu kita untuk bersungut, masihkan 'bel' kita berbunyi dan ingatkan kita bersyukur:

Thanks God for your equipment to me....
Thanks God for my wife, and my children [adriel + tirza]
Thanks God : alm. papa en mama, yang ceRewet tapi sabar mendidik 7 anak-anak dalam kekurangan sampai kami semua bisa seperti sekarang. Padahal papa selalu memberikan uang yang sangat minim bagi kami semua. thanks for Your provindence to us.
Thanks God fur keluarga Papa+mama mertua, cie-cie Nanncy dan keluarga Yuli.
Thanks God pengalaman yang sangat berkeSan dalam pelayanan selama 5 tahun di GKKK Jayapura. Pengalaman yang tak terlupa dan akan selalu memberi bekas yang mendalam.
Thanks God 'tuk kehadiran para sahabat selama aku melayani 4 tahun di GKA Elyon SUrabaya. Engkau menjadi kenangan indah dalam memori hidupku.
Thanks God 'tuk pengasahan diri, karakter dan sikap pelayanan di GKKK Pasundan Bandung.
God bless us for new exprience my ministry in GKKK Pos PI Taman Kopo Indah - Bandung.
Beri hikmat, kesabaran dan kekuatan secara ekstra dalam mengenal jemaat, memberdayakan jemaat dan membawa HiduP mereKa dalam keLimpaHan with YoU.

hElp uS dalam mendidik aDriEl yang agak mulai 'nAkaL'... pelihara eSmosi kami untuk dia yang eNgkAu anugerah kepada kami. ForGive us yang handle dia with so hard.

pada akhirnya......
Thanks God..............
Thanks God...................
Thanks God .......................
Thanks God ..................................
Thanks God for everything to us
I Love you God, always, 4eVer en ever...

Thursday, January 05, 2006

krisis paro baya

Alamak ! Kabur ...
(Catatan singkat mengenai krisis paro baya)

Bejo... tertangkap lagi hanya gara-gara kabur ketika ingin kabur. Kemarin beberapa polisi mengejar napi bejo yang coba kabur dari sebuah Lembaga Permasyarakatan di kota kelahirannya. Lucunya dia tertangkap hanya karena tergelincir oleh ceceran bubur. Kok bisa? Ya! karena matanya mulai kabur sehingga tidak awas melihat seonggokan bubur di jalan, alamak!

Kata kabur memiliki makna ganda, yaitu: melarikan/meloloskan diri atauhilang, lenyap dan arti kedua: kurang jelas. Saya sudah sering mendengar kata 'krisis paro baya' namun baru sekarang mulai merasakan makna kata itu.

Tenaga yang tak kenal lelah kala muda sedikit demi sedikit mulai memudar.Dulu aku bisa berlari, lembur untuk mengerjakan tugas, pelayanan ke luarkota, pulang subuh dan esok pelayanan lagi tanpa merasa lelah. Sekarang? Tak mampu lagi! Aku juga harus mulai hati-hati bila memerlukan pergerakan yangini dan yang itu, kalo tidak, bisa amsiong, otot dan tulang sendi kita bisa kesleo.

Dulu tidak demikian, saya bisa loncat ini dan itu, bisa melakukan gerakan ini dan itu. Semua yang membutuhkan kelenturan tubuh, saya masih berani melakukan. Sekarang? Oh...bisa...bisa panggil tukang pijat. Saya mulai tak ingat akan hal ini atau hal itu, alias pelupa. Daya ingat mulai kabur atau kalo tak mau dibilang hilang. Kadang ada janji dengan orang... eh kagak ingat. Menaruh barang sebentar, sudah lupa posisinya.

Saya mulai takut makan ini dan itu, takut asam urat, kencing manis, darah tinggi, kolesterol, padahal sebelumnya santap saja, kagak peduli ini dan itu. Di samping itu, saya mulai harus memakai kacamata baca, karena mata ini tidak bisa diajak kompromi bila membaca huruf-huruf yang kecil.

Disini saya tidak hanya mengalami kata kabur pertama, yaitu segala kekuatan masa muda yang mulai lenyap atau kabur [lari], tenaga kuda dan otot baja sudah mulai menghilang dariku; juga pandangan mata yang mulai kabur.

Celakanya, seiring dengan kaburnya hal-hal jasmaniah itu, acapkali diiringi juga dengan kaburnya kepercayaan diri. Apalagi kalau kita tak menyiapkan diri dan mental menghadapi semua perubahan fisik ini. Maka tidak heran, banyak orang yang mulai memasuki paro baya (antara 40 -50 tahun) bertingkah laku aneh, tak normal, menyimpang, dan hal-hal negatif lainnya.

Sebab itu, ada pepatah mengatakan bahwa 'life begin forty' (hidup dimulai dari usia 40) mungkin ada kebenarannya; Untuk menyatakan pada orang lain bahwa dirinya masih kokoh, hebat dan tak ada sesuatu yang kurang, dia melakukan tindakan yang tak bijak: seperti ada yang bersemangat menikah atau berselingkuh, dll. Namun seharusnya ketika kita mulai memasuki usia paro baya, maka kita diajak untuk mulai berkaca, mempertanya-diri: "Apakah yang telah kulakukan setelah hidupku melewati usia paro baya? Apakah yang telah kutorehkan dari guratan sejarah hidupku, positif atau negatif?"

Kadang kita disadarkan bahwa masih banyak hal yang belum kita kerjakan.Untuk bekerja bagi Tuhan tidak ada kata terlambat! Kalau begitu, mari kitamaju dan bangun dari 'tidur' dan mulai melakukan sesuatu bagi DIA, dan bukannya malah kabur dari tugas yang dipercayakanNya pada setiap kita.

Surabaya, Nov 2003

Friday, December 30, 2005

Vox Dei Vox Populi

Vox Dei Vox Populi, Berlaku di GKA Elyon ?

Sudah tidak asing lagi, bila kita sering mengamati melalui layar televisi, koran atau pun majalah bagaimana para anggota DPR / MPR di Indonesia bersidang. Dalam setiap sdiang atau rapat, apa yang mereka perbincangkan, usulkan, mungkin pertanyakan atau diskusikan panjang lebar (kalau tidak mau dikatakan debat kusir) sampai berjam-jam adalah untuk melegitimasikan sebuah istilah ‘demi kepentingan rakyat’ yang mereka wakili. Mereka dengan yakindan mantap menyebutkan diri sebagai wakil-wakil dari rakyat yang telah ‘memilih’ mereka masuk dan duduk di situ dengan tujuan ‘membela’ kepentingan rakyat.

Yang menjadi pertanyaan: sejauh mana kebenaran antara apa yang mereka sandang ‘sebagai wakil suara rakyat’ dan realitasnya dalam kehidupan masyarakat? Apakah mereka benar-benar mewakili kepentingan rakyat ? Apakah suara mereka identik dengan suara rakyat ? Ataukah rakyat memang telah dan akan terwakili oleh suara mereka ? Mungkin sebagian besar sepakat untuk mengatakan tidak bisa dipastikan !

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengingatkan penulis akan suatu pepatah kuno yang berbunyi vox dei vox populi, artinya suara Tuhan suara rakyat. Munculnya kata-kata mutiara ini dilatari oleh ketiranian raja Louis XIV dari Perancis yang selalu berkata dengan pongahnya sampai menjadi termasyhur, yaitu L’etat c’est moi yang berarti : Hukum itu adalah saya ! Pernyataan ini jelas mengandung makna bahwa dirinya identik dengan Tuhan atau dapat diartikan bahwa segala sesuatu yang keluar dari dirinya, (baik itu berupa peraturan, tuntutan, atau suatu desesi (keputusan) yang kemudian menjadi hukum) pastilah mewakili atau sangat mungkin identik dengan Tuhan. Maka sebagai suatu reaksi terhadap ekspresi itu, orang kemudian menempatkan adagium lain: vox dei vox populi.
Dari kasus diatas, timbul suatu pertanyaan: Apakah pelayan Tuhan, para pendeta dan penginjil, para majelis dan pengurus Komisi / Departemen selalu identik dengan utusan Tuhan ? SIAPA YANG TAHU ! Lalu Apakah suara Tuhan dapat dikatakan sebagai representatif dari suara Tuhan ? WALAHUALAM, hanya Tuhan yang tahu, mungkin sekali waktu dan karya merekalah yang menjadi bukti yang setia.

Sebenarnya pertanyaan serupa dapat juga ditujukan kepada institusi Gereja, yaitu apakah setiap desesi, kebijakan atau apa pun yang dihasilkan dari institusi gereja dapat diidentikkan sebagai suara Tuhan ? Atau apakah setiap keinginan dan suara dari jemaat terhadap pemimpin jemaat juga menjadi indikator suara Tuhan ? Idem ditto deh !

Bagaimana dengan setiap orang yang menyebut dirinya sebagai wakil jemaat ? Apakah secara otomatis pernyataan orang itu dapat diterima, didengarkan dan perlu dipertimbangkan saran-sarannya ? Apakah keberadaan orang tersebut pada suatu forum rapat dapat dikategorikan sedang ‘mewakili’ jemaat atau suara Tuhan ? Sejauh mana kekuatan suara Tuhan dan suara jemaat dalam pengambil-keputusan gereja, dalam hal ini GKA Elyon ? Mungkinkah tidak ada sama sekali ‘ruang suara’ untuk suara Tuhan atau suara jemaat ? Mungkin sekali ! Acapkali realita mengatakan bahwa suara dari ‘orang-orang tertentu’, ‘orang-orang yang dalam lingkaran kekuasaan’ yang lebih menentukan suatu desesi atau bahkan arah gereja, daripada Tuhan yang mempunyai gereja.

Dari lontaran-lontaran pertanyaan yang muncul, penulis ingin mengajak Saudara semua kembali berpikir kritis terhadap gereja (khususnya GKA Elyon) yang Saudara cintai. Sebab GKA Elyon menjadi baik atau buruk, menyimpang arah atau bergerak ke arah yang benar, tidak hanya ditentukan oleh para pelayan Tuhan, tetapi juga oleh jemaat secara keseluruhan turut berperan serta atas hal-hal diatas. Ada beberapa hal yang boleh menjadi bahan pemikiran, yaitu :

Fungsi seorang pelayan Tuhan adalah sebagai ‘mediator’, yaitu sebagai imam (mewakili suara jemaat yang ingin bertobat atau menyampaikan pergumulannya kepada Tuhan), nabi (mewakili suara Tuhan dalam menyampaikan keinginan-Nya kepada umat), dan raja ( yang mengejawantahkan, menjemaatkan suara Tuhan yang diterima pelayan Tuhan kepada umat-Nya secara keseluruhan).

Semua ini dengan satu tujuan agar umat Tuhan semakin peka akan kehendak Tuhan atau suara Tuhan atas gereja-Nya. Dengan kepekaan ini gereja Tuhan tidak sampai menjalani kehidupan yang menyimpang dari keinginan-Nya.

Sebagai mediator, seorang pelayan Tuhan tidaklah boleh sembarangan dan terlalu mudah melontarkan statemen ‘aku datang disini membawa suara jemaat’ atau sebaliknya. Ingat kasus yang terjadi di Alkitab :

  • I Raja-raja 13
    Dari peristiwa ini, kita diingatkan beberapa hal :
    - Ketika seseorang mewakili suara Tuhan selalu disertai kuasa dari-Nya.
    - Seorang abdi Allah tidak bekerja untuk kepentingan seseorang atau sekelompok orang tetapi ia milik Allah.
    - Sungguh mengerikan hukuman dari Tuhan terhadap abdi Allah yang lalai menaati perintah yang telah ia dengar.
  • 1 Raj 22:1-40
    Dari peristiwa ini kita dapat memetik suatu pelajaran:
    - Suara ‘mayoritas’ (v.6 – 400 nabi yang sangat mungkin dikepalai nabi Zedekia yang lebih senior dari Mikha bin Yimla) tidak selalu identik dengan suara Tuhan, itu sebabnya raja Yosafat ragu terhadap jawaban para nabi itu kepada raja Ahab (lihat v.7).
    - Dibalik suara nabi Mikah bin Yimla yang ‘tidak menyenangkan’ (tidak menyenangkan itu menurut siapa?) karena suara Tuhan dianggap malapetaka, namun bagi raja Yosafat mengandung muatan suara Tuhan (v.8,18). Memang tidak memuaskan bagi kalangan atau oknum tertentu yang ingin mencari keuntungan, atau pembenaran bagi motif dan ego sesaat.
    - Seperti kejadian dalam 1 Raj 13, yang juga terulang di 1 Raj 22, yaitu hukuman Tuhan sungguh menakutkan bagi orang-orang yang tidak taat akan ‘suara Tuhan’.

  • Peristiwa pembutan lembu emas oleh Harun (Kel 32:1-35) terkandung muatan:
    - Suara ‘mayoritas’ umat Israel (yang menginginkan ‘allah’ pengganti –v.1) tidak identik dengan suara Tuhan.
    - Fungsi pelayan Tuhan adalah menjadi filter bagi umat yang digembalakannya dan bukan terseret arus (dalam Kel 32:4 - Harun malah menegaskan bahwa inilah allah untuk mereka, dan dalam Kel 32:33 – Harun malah melepaskan tanggungjawab dan melemparkan kesalahan kepada uamt Israel).
    - Dalam peristiwa ini, kembaliada hukuman Tuhan kepada umat Israel yang bersalah menggunakan ‘suara massa’ untuk mendesak dan memojokkan Harun.

Jadi dapat dikatakan, jika seorang pelayan Tuhan tidak mawas diri, ia akan mudah jatuh kepada ke’pongah’an yang sama seperti raja Louis XIV, bahwa dia satu-satunya orang yang dipercayai oleh Tuhan atau jemaat untuk menyampaikan kebenaran.

Bahaya dari hal ini adalah kita sangat mudah menanfaatkan statemen itu agar suara ‘pelayan’ memiliki power untuk didengar, dihormati atau dilaksanakan, padahal realitasnya masih perlu dipertanyakan ?

Demikian juga sebaliknya terhadap jemaat (dalam memberikanusul atau keinginan) yang tidak mawas diri, sangat rawan membawa suatu malapetaka bagi gereja.

Oleh sebab itu, gereja zaman sekarang (termasuk GKA Elyon) membutuhkan nabi seperti Samuel, yang berani menegur raja Saul (pada masa itu, siapa yang begitu berani menegur raja, yang dihormati, memiliki kekuasaan yang ‘tak terjamah’ yang juga dipercayakan sebagai representatif Allah ? Sungguh ini bukan hanya membutuhkan keberanian tetapi keyakinan bahwa apa yang disampaikan adalah suara Tuhan, agar raja tidak menyimpang dan bertobat dari arah hidupnya yang salah) yang ketika itu menyimpang dan memanfaat privilegde dari Allah untuk kepentingan diri sendiri.

Atau seperti nabi Nathan yang berani menegur raja Daud ketika ia berbuat dosa dengan segala rencana yang begitu ‘mulus’ namun ‘licik’ (tidak sekedar jahat) hanya untuk ‘menikmati’ seorang Batsyeba yang telah menjadi istri orang (walau tak seorang pun tahu akan rencananya). Adalah tidak mudah mengerti hal ini, mengapa demikian ? Karena masa itu adalah suatu hal yang wajar kalau seorang raja memiliki ‘wanita’ lebih dari satu. Apakah Tuhan marah hanya karena Batsyeba sudah menjadi milik orang lain ? Mungkin sekali ! Namun sangat mungkin Tuhan murka Tuhan murka karena ‘kelicikan’ dan ‘kelicinan’ Daud untuk mengambil Batsyeba; atau mungkin Tuhan murka karena kepongahan Daud dalam menggunakan privilegde ke’raja’annya (his kingship) untuk berbuat sesukanya.

Adakalanya kita harus berdoa agar Tuhan memberikan orang-orang semcam mereka (yang berani menyampaikan berita menyakitkan namun mengandung kebenaran), yang berani menegur (walau dia orang besar, orang penting, orang berduit, orang yang disegani, perintis gereja, dsb.) jika seseorang atau gereja memang telah SALAH ARAH.

Dari sini terbukti bahwa antara gereja (umat Allah) dan pelayan Tuhan harus saling re-evaluasi, saling mengoreksi, saling menegur dan menasehati satu sama lain, agar gereja dan umat didalamnya dapat berkenan di hadapan-Nya. Ketika gereja hidup dalam jalur yang benar, baik dalam sistem, arah dan kebijakannya, maka suara Tuhan akan identik dengan suara jemaat dan suara jemaat juga identik dengan suara Tuhan.

surabaya, 2000

Rugi Dacg Gua

Rugi dach gua

Tulisan ini dibuat secara khusus untuk mereka yang baru mengambil keputusan untuk menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka.

‘Rugi dach gue…” papar seorang pria kepada rekan sepelayanan saya. ‘Kenapa kok rugi?’ tanya rekan saya tersebut. ‘Ya… kemarin pacar saya telah putus’in gue, setelah sekian lama pacaran’. Kalau demikian apanya yang membuat kamu rugi?’ tanya sang rekan saya itu lagi.
‘Jelas dong saya rugi, selama ini kalo saya interlokal dengan dia, selalu saya yang bayar pulsanya.’ ‘Makanya saya tagih kembali kepada dia seluruh pengeluaran ‘percakapan’ kami berdua.’
‘lho…kok begitu ?’
‘ya supaya impas alias tidak rugi-rugi amat dari pihak gue.’ Alamak ! saya geleng-geleng kepala dengar cerita ini, walau juga ada uncur geli juga dalam hati:’ kok ada ya... pemikiran seperti ini.’
Mungkin kita tak akan melakukan tindakan sebodoh teman rekan saya itu, tetapi sangat mungkin kita melakukan juga dalam perkara lain. Apa sih yang terbersit dalam pikiran kita ketika membaca pernyataan di atas ? Mungkin sekali kerugian dalam arti kehilangan sesuatu yang bersifat material atau non-material, misalkan dalam perdagangan, pacaran, transaksi,dll. Suatu ungkapan yang seringkali terlontar, ketika terjadi ketidak-seimbangan antara yang kita keluarkan dengan yang kita dapatkan. Ketika ada sesuatu yang hilang dari diri kita, yang kita sayangi lenyap maka kita membuat statemen bahwa kita telah dirugikan.
Tak sedikit orang yang beranggapan bahwa ikut Tuhan itu merugikan [siap rugi] dan masa depan menjadi ‘suram’ Mengapa muncul anggapan itu di kalangan beberapa orang ? Mungkin sekali tak lepas dari konsep-konsep sekitar:

1. Rugi karena tidak bisa berbuat ‘dosa’ lagi. Dirugikan karena hidupku sekarang tak akan sebebas seperti dulu lagi. Sebab hidup sekarang dibatasi oleh aturan dan larangan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa kekristenan itu identik dengan aturan.

2. Selama saya menjadi orang Kristen, bukan berkat saya peroleh malah seringkali mengalami ‘kesialan’, malapetaka, atau musibah.

3. M. Luther berkata bahwa dimana hatimu disitu Allahmu berada. Ini sangat tepat sekali karena banyak orang setelah menjadi ‘Kristen’, maka sesungguhnya ia ‘hanya’ berpindah dari satu ‘Allah’ kepada ‘Allah’ yang lain. Mengapa rugi karena Allah yang baru belum tentu seperti Allah yang lama, yang sudah menjamin hidupnya, sudah membantu dia dalam usaha, rumah tangga, dll. Itu berarti bahwa dalam Konsep mereka Allah itu hanya sekedar ‘pembantu khusus’ yang dapat diminta, disuruh, diperintah oleh pemeluknya. Kalau demikian apakah konsep itu adalah Allah? Allah tak seperti itu seharusnya.

Apakah memang benar mengikuti Tuhan itu merguikan kita? Ya, kalau kita menghitung dengan kalkulasi untung-rugi secara materi atau sesuatu yang kasat mata, sesuatu yang bisa dilihat oleh mata jasmani. Paulus berkata ‘semua kuanggap rugi karena pengenalanku akan Dia [Fil 3:7-8], apakah itu berarti Paulus belum mengecap kelimpahan dunia ? Belum lagi perkataan Salomo yang mengatakan bahwa di bawah matahari segalanya sia-sia ? apakah ini sama dengan konsep di atas? Tentu tidak.
Kalau begitu apakah keuntungan mengikuti Tuhan ? Keuntungannya adalah pada kesempatan untuk mengenal Tuhan, sebab tidak semua orang yang mendengar Tuhan dapat mendengar [Yes 6:9-10; Yes 42: 20; Mat 13:10-17; Kis 28:27]. Dari ayat-ayat diatas, sangat jelas bahwa banyak orang yang mempunyai kesempatan untuk mendengar namun hati mereka tak mengerti, mendengar dan memahami, karena hati mereka dikeraskan oleh Tuhan. Oleh sebab itu dalam Mat 13:16 dikatakan bahwa suatu kebahagian bagi orang yang dapat percaya kepada apa yang mereka lihat dan dengar.
Salomo berkata bahwa segala sesuatu sia-sia kalau tanpa Tuhan. Sebab ia sudah merasakan kenikmatan dunia secara berlimpah. Dan semua itu tak membuat dia puas, sebab tak mungkin ciptaan Allah yang sangat baik dapt dipuaskan hanya oleh sesuatu yang berisi dan bersifat materi. Manusia yang diciptakan membutuhkan pemuasan yang bersifat rohani, jadi tak sekedar materi yang fana dan sementara sifatnya. Tak mungkin essensi ‘A’ dapat dipuaskan oleh essensi ‘B’. Essensi ‘A’ hanya dapat cocok dengan essensi A.
Yesus menegaskan bahwa makanan-Nya adalah melakukan
pekerjaan Bapa yang mengutus Dia [Yoh 4:34], itu berarti kewajiban Dia selama di dunia adalah memenuhi kehendak Bapa. Kehendak Bapa adalah agar semua orang diselamatkan, maka ketika Ia tidak melakukan kehendak Bapa, maka semua manusia pasti binasa dan itu berarti kerugian bagi manusia. Untuk bisa percaya kepada Tuhan Yesus yang telah diutus Bapa untuk menyelamatkan kita sudah termasuk anugerah.
Keselamatan dan percaya Tuhan Yesus adalah penting dan terutama, sedangkan yang lain adalah asesori yang Tuhan berikan kepada manusia. Namun acapkali manusia mengejar asesori dan melupakan essensi yang sesungguhnya. Sehingga ketika asesori hilang, mereka merasa rugi, tetapi kalau essensi [hidup dalam Kristus] diabaikan, kadang ditinggalkan, kita tidak merasa rugi.
Akhir kata, selamat datang dalam kerajaan Allah bagi mereka yang telah percaya Tuhan Yesus dalam Camp Pemuda – Remaja 2004 kemarin. Apa yang telah kalian putuskan bukanlah sesuatu yang merugikan, tetapi kebahagian, camkalah itu !!!


samthe
agustus 04